Selasa, 17 Oktober 2017

Assalamu'alaikum bu dan teman-teman, sekedar share info setelah mengikuti Simnas di UGM kemarin

Salam sejawat, mahasiswa bidan Indonesia!

Pada 13-14 Oktober 2017, telah diadakan Forum Mahasiswa Kebidanan di hotel MM UGM, Yogyakarta, yang dihadiri 27 mahasiswa seluruh jenjang bidan dan dari seluruh Indonesia dengan perwakilan Stakeholder dari IBI Pusat, Kemenristekdikti, Kemenkes RI, dan AIPKIND. Dilanjutkan dengan seminar nasional tgl 15 Oktober 2017 bersama IBI dan BPPSDMK di Auditorium MM UGM Yogyakarta.

Kesimpulan besar yang kami dapatkan setelah berbincang panjang dengan Stakeholder, adalah sebagai berikut :

(Saya sarankan teman-teman memahami terlebih dulu level KKNI 2012 dan Permenristekdikti nomor 44 tahun 2015)


1. Apa perbedaan lulusan Sarjana Kebidanan (S1) dan Sarjana Sains Terapan (D4)?

Klarifikasi:
Tidak ada perbedaannya menurut level KKNI 2012 dan Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN Dikti) dalam Permenristekdikti nomor 44 tahun 2015, dengan masa belajar maksimal 144 SKS + 24 SKS Profesi. Secara umum, pendidikan kebidanan dibagi menjadi 2 yaitu pendidikan Vokasi (D3) dan Profesi (D4 dan S1). Jadi D4 dan S1 merupakan multientry single output bagi tenaga profesi kebidanan Indonesia.

2. Mengapa S1 didirikan bila sudah ada D4 sebagai bidan pendidik?

Klarifikasi:
Dulu, program D4 tidak menjalankan program profesi seperti layaknya S1 sekarang ini. Menurut permenristekdikti, tenaga pendidik untuk diploma tiga minimal berada di level 8 serta memiliki sertifikat profesi kebidanan (gelar Bd.) demi meningkatkan kulaitas hasil didik. Maka dibentuklah S1 yg secara terencana akan menjalani proses studi sampai memiliki gelar Bd. tersebut.

3. Bagaimana dengan lulusan D4 atau yang sekarang sedang menjalani program D4?

Klarifikasi:
Agar memiliki level yang qualified menjadi tenaga pendidik, maka D4 harus melewati masa Profesi dengan beban 24 SKS. Jadi tidak ada perbedaan dengan S1. Selain itu untuk mendapatkan sertifikat kompetensi agar kemudian didaftarkan STR, maka D4 kebidanan harus menjalankan ujian kompetensi seperti D3 dan S1.

4. Bagaimana bisa S1 dan D4 berada di level yang sama sementara proses perkuliahannya berbeda? S1 memiliki porsi 60% teori dan 40% praktik. Sementara D4 memiliki 40% teori dan 60% praktik?

Klarifikasi:
Kita mengacu pada Perkemenristekdikti nomor 44 tahun 2015. Disitu dijelaskan detil bahwa D4 dan S1 tidak ada perbedannya. Kita sedang dalam masa transisi pembentukan S1 Kebidanan demi tercapainya generasi mahasiswa ke tiga yaitu mahasiswa yang inovatif, kritis, mendalami penelitian, dan berjiwa enterepreneur. Namun kita juga perlu memerhatikan nasib bidan lulusan D4 yg sudah ada, intansi dengan prodi D4, serta mahasiswa yg sedang menjalani program D4. Maka diadakannya pendidikan Profesi dan pelaksanaan ujian kompetensi ntuk D4 adalah solusi dari transisi ini.

5. Apakah kedepannya kondisi kesetaraan level S1 dan D4 akan tetap ada?

Klarifikasi:
Seharusnya semenjak berdirinya S1 Kebidanan, D4 kebidanan harus berhenti beroperasi. Namun Kemenkes RI, AIPKIND, IBI, dan Kemristekdikti tidak bisa menutup mata bahwa di Indonesia terdapat ratusan instansi prodi D4, mahasiswa D4, dan lulusan D4. Untuk beradaptasi dengan hal itu, maka diputuskan prodi D4 boleh menerima mahasiswa baru sampai tahun 2016, dengan pertimbangan dapat mengikuti proses belajar sampai tahun 2020.
Setelah tahun 2020 ujian kompetensi bidan untuk D4 akan dihentikan, program studi D4 akan ditutup. Jika progran studi D4 tahun 2017 ini masih ada, maka satu-satunya jalan adalah instansi tersebut bertanggungjawab terhadap pendidikan profesi dan ujian kompetensi nya.

6. Untuk apa diadakan uji kompetensi bidan?

Klarifikasi:
Dulu, ukom ini diadakan sebagai evaluasi bidan yang sudah ada. Semenjak tahun 2013, ukom diadakan sebagai exit exam dimana apabila lulusan institusi tidak lulus ukom maka tidak berhak mengikuti pengajuan STR.

7. Terkait uji kompetensi bidan yang selama ini berlangsung, dari manakah indikator ujian tersebut? Karena Standar Pelayanan Bidan terdapat beberapa perbedaan dengan wewenang bidan menurut Permenkes RI.

Klarifikasi:
Indikator ujian kompetensi bidan mengacu pada Standar Pelayanan Kebidanan tahun 2006. Pada tahun 2017 ini akan diajukan standar yg baru namun masih akan diajukan ke kemenristekdikti. Faktanya dari tahun tahun mengalami hasil lulusan yang fluktuatif. Hasil lulusan berkaitan dengan akreditasi institusi. Akreditasi A rata-rata berhasil meluluskan 80% bidan, akreditasi B 70%, dan akreditasi C kurang dari 70%. Sementara di Indonesia hanya terdapat 2 institusi akreditasi A, 204 intitusi akreditasi B, dan 137 institusi akreditasi C, dan 81 intitusi masih dalam tahap pengajuan. Dalam artian, institusi kebidanan di Indonesia belum sepenuhnya siap dengan ujian kompetensi ini.

8. Jumlah tenaga bidan mencapai 448.483 tenaga, namun sepertinya belum terdistribusi dengan baik. Bagaimana?

Klarifikasi:
Jumlah bidan sebenarnya tidak mencapai demikian. Karena data tersebut merupakan STR. Kemenkes tidak mensortir mana STR baru mana STR yang re-registrasi. Bidan memang belum terdistribusi maksimal. Terutama daerah perifer. Dikarenakan dari tenaga bidannya sendiri yang tidak ingin dimigrasikan. Banyak tantangannya seperti geografi, sarana prasarana, endemisitas, dsb. Sampai saat ini Kemenkes RI dan IBI masih berupaya memaksimalkan mendidik bidan daerah tersebut.

9. Apa sebenarnya perbedaan bidan vokasi dengan profesi?

Klarifikasi:
Secara keilmuan bidan profesi lebih mengedepankan analisis kasus. Kenapa. Dan mengapa. Sehingga bisa memberi konseling yg baik untuk pasien dan keluarganya. Estimasi kami, untuk puskesmas non rawat inap dibutuhkan minimal 1 bidan profesi dan 3 bidan vokasi. Untuk puskesmas rawat inap dibutuhkan 2 bidan profesi dan 5 bidan vokasi.

10. Salah satu tantangan bagi pendidikan kebidanan adalah banyak tenaga dosen yang belum berpengalaman kerja di lahan. Sehingga mempengaruhi proses belajar mengajar. Sementara tidak ada aturan yang mengatur bahwa tenaga pendidik harus memiliki pengalaman kerja. Bagaimana?

Klarifikasi:
Ya. Betul sekali. Terimakasih masukannya, dari IBI sesungguhnya sudah merencanakan membuat aturan seperti itu, namun masih akan dikordinasikan dengan kemenristekdikti. Semoga segera bisa ditetapkan.

11. Bagaimana dengan progres RUU Kebidanan sampai saat ini?

Klarifikasi:
Kebetulan pada Oktober 2017 ini, draft RUU sudah dibawa ke badan legislatif. Semoga tahun ini bisa disahkan.

Demikian hasil diskusi antara mahasiswa kebidanan dengan stakeholder. Terimakasih untuk para stakeholder yang telah menjelaskan dengan detil dan sangat terbuka. Kami mahasiswa siap mendukung demi kemajuan kebidanan di Indonesia. Salam sejawat, hidup bidan Indonesia.

Fitra Nurul Fayani
S1 Kebidanan Universitas Brawijaya

Sabtu, 30 September 2017



Janji Sarjana Kebidanan Sebelum Memasuki Pendidikan Profesi

           
3 Agustus 2017, akhirnya diresmikan dapet gelar S.Keb (Sarjana Kebidanan)!
          Menjadi bidan bukan perkara mudah. Memutuskan untuk mencintai profesi ini, bagi saya butuh bertahun-tahun (sampai sekarang masih berusaha). Jika sebagian besar mereka yang memilih profesi ini atas dasar kehendak sendiri, berbeda dengan saya (dan beberapa teman yang senasib, hehe). Tahun pertama sekolah kebidanan saya hampir mengikuti tes SNMPTN lagi, saking enggak-suka-nya sekolah bidan. Tahun kedua, saya makin gak suka, sampe curhat ke dosen. Dan di tahun itu saya tahu kenapa saya gak suka. Eits, tapi rahasia, yaa…

Sabtu, 19 Agustus 2017

MANAJEMEN KONFLIK


             Kemarin, bertepatan dengan HUT RI Ke-72 saya memutuskan untuk kembali ke tanah rantau. Sejak 2 hari lalu bawaannya pengen segera balik ke Surabaya. Alasan utamanya adalah saya pengen hibernasi dulu sebelum segala kesibukan per-profesi-an dimulai (hahaha). Karena di masa profesi, tidur adalah hal langka. Sebagian besar waktu bakal dihabiskan di RS, Puskesmas, atau BPM. Kalo pulang pasti digunakan buat nulis target, ngerjakan laporan, belajar buat ujian, dan sejenisnya. Ada waktu kosong pasti pengennya dimanfaatkan buat tidur (alesan aja, sih.hehehe).

                Eniwey, kembali ke topik. Jadi, ketika di perjalanan kembali ke Surabaya dari Probolinggo, saya duduk bersebelahan dengan seorang ibu muda (sekitar seumuran saya) yang membawa anak kecil usia sekitar 3-4 tahun. Kebiasaan saya di perjalanan itu tidur, saya sangat jarang membuka obrolan ketika bepergian naik bus. Bukan ansos atau sombong, tapi karena saya sering mabuk darat, hehehe. Si ibu membuka obrolan dengan pertanyaan basa basi, tanya mau ke mana dan asli mana. Ternyata si Ibu ini juga mau ke Surabaya dan sama-sama dari Situbondo. Perjalanan sejauh itu, saya perhatikan ibu ini enggak bawa barang apapun kecuali dompet sama Hp. Wajahnya juga keliatan bingung. Lalu iseng saya tanya, “Mbak cuma pergi berdua sama anak aja ke Surabaya?” Si ibu mengangguk lesu, lalu jawaban yang keluar dari mulut ibu muda ini membuat saya kaget dan enggak habis pikir. “Saya kabur dek. Suami saya sudah ketahuan selingkuh tapi nggak mau ngaku. Jadi saya kabur aja biar dia tau rasa.”
Akhirnya obrolan kami jadi ngalor ngidul. Saya jadi tau latar belakang ibu ini, kisah selingkuhnya si suami, pernikahan yang tidak dia inginkan dan lain-lain tanpa saya tanya. Ya, begitulah wanita, ia hanya butuh didengarkan.
         Sepanjang jalan sampai saya tiba di kos pertanyaan “Kenapa mesti kabur? Kenapa nggak diomongin baik-baik sama suami?” terus terngiang-ngiang. Lalu saya teringat materi sekolah pranikah beberapa waktu lalu. Jadi, manusia itu punya berbagai cara menghadapi konflik. Dan biasanya tiap orang cenderung menggunakan satu cara tertentu dalam menghadapi konflik. Kata Pak Thomas dan Pak Kilmann, ada 5 gaya manajemen konflik; 1) Competing, 2) Collaborating, 3) Compromising, 4) Avoiding, 5) Accommodating. Nah, si ibu ini nih sepertinya tipe yang avoiding atau menghindar. Gaya manajemen konflik ini memiliki tingkat keasertifan dan kerja sama rendah. Orang dengan gaya ini cenderung akan menghindar atau menari diri dari konflik. Bentuk menghindarnya bisa berupa menjauhkan diri dari pokok masalah, menunda menyelesaikan masalah hingga waktu yang tepat, atau menarik diri dari konflik yang mengancam dan merugikan. Daaaaaan, gaya ini adalah yang paling berbahaya. Karena biasanya orang dengan gaya ini akan menghindar sambil membawa setumpuk kemarahan, kekesalan, dan segala emosi negatif lainnya. Dan ginamapun konflik itu mesti bin harus diselesaikan. Kalo menghindar terus yang ada konfliknya jadi gunung merapi dan suatu saat bisa meletus :( Meski begitu, tetap ada positifnya. Yaitu, orang dengan gaya ini bisa mendinginkan emosi dulu sebelum memulai penyelesaian konflik.


                Gaya manajemen konflik yang paling baik adalah collaborating atau kolaborasi. Gaya ini memiliki tingkat keasertifan dan kerjasama tinggi. Saat berkolaborasi, seseorang akan berusaha bekerja sama dengan orang lain dan mencari solusi serta alternatif solusi yang paling sesuai untuk kedua belah pihak. Kolaboriasi antarpasangan bisa menggali perhatian dasar dari masing-masing pihak, menggali ketidakcocokan sebagai wawasan baru untuk dipelajari, menyesuaikan kondisi yang bisa memicu konflik sehingga konflik dapat dihindari, atau mencoba menemukan solusi kreatif untuk masalah interpersonal. Karena kolaborasi melibatkan perhatian dan kepentingan dua orang, gaya ini biasanya memerlukan waktu lebih lama untuk menyelesaikan masalah.
                Gaya competing atau bersaing ini memiliki keasertifan tinggi dan kerjasama rendah, berorientasi pada kekuatan. Orang dengan gaya ini biasanya bersikap tegas dan menggunakan kekuatannya seperti kekuasaan, keahlian, pangkat, posisi, atau kemampuan persuasif untuk menyelesaikan masalah. Positifnya bagus digunakan saat situasi mendesak, tapi jika orang dengan gaya ini bertahan lama bisa mengganggu suatu hubungan. Apalagi kalau diterapkan terlalu sering dalam hubungan pernikahan.
                Lawan dari competing adalah accommodating atau akomodasi yang memiliki keasertifan rendah tapi kerjasama tinggi. Orang akomodatif akan mengabaikan kepentingan dan perhatian dirinya, ia akan lebih mementingkan orang lain. Gaya ini biasanya berbentuk pengorbanan diri, beramal tanpa pamrih, mematuhi aturan orang lain padahal sejatinya ia tidak sejutu/ingin, atau menyerah pada sudut pandang orang lain. Positifnya orang dengan gaya ini adalah orang yang peduli dengan orang lain daripada si masalah, tapi jika terlalu sering biasanya akan muncul rasa kesal dan sesal karena tidak bisa menyampaikan pendapat.
                Gaya yang terakhir adalah gaya compromising atau kompromi. Gaya ini berada di tengah-tengah keasertifan dan kerjasama. Compromising juga berada di tengah-tengah competing dan accommodating, lebih dari sekedar bersaing tapi kurang akomodatif. Orang dengan gaya ini akan mencoba menemukan solusi yang bisa memuaskan semua orang dengan setiap orang diharapkan sumbangsihnya (nah, apa nggak bingung, tuh?). Positifnya adalah solusi yang timbul dari gaya ini akan menguntungkan kedua belah pihak, tapi akan memakan banyak waktu karena harus menemukan solusi yang menyenangkan semua orang. Padahal tiap kepala punya mau yang beda-beda.
                Nah, setiap orang pasti punya gaya manajemen konflik yang berbeda. Pun ini hanya salah satu dari teori manajemen konflik. Masih banyak teori manajemen konflik yang lain. Kalau ingin tahu gaya manajemen konflik diri, bisa coba mengisi kuesioner ini. Selamat mencoba…
                Oke, saya cuma memberi prolog saja. Lebih lengkapnya tentang manajemen konflik ala Pak Thomas dan Pak Kilmann bisa dilihat di sini, yaa.
                Semoga bermanfaat :)

Sumber:
Thomas-Kilmann Conflict Mode oleh Kenneth Thomas dan Ralph H. Kilmann
Manajemen Konflik dalam Pernikahan oleh Hafid Algristian, dr., SpKJ

Kamis, 01 Juni 2017

Fenomena Snapchat-Instagram dan Plagiarisme

Pengguna Snapchat dan Instagram pasti tidak asing dengan fenomena yang belakangan membanjiri timeline sosial media. Eits, bukan fenomena yang dimulai sejak salah satu Gubernur di Indonesia slip the tongue itu yaa. Ini fenomena yang cukup serius tapi dibawa santai aja lah.hehehe 

Sabtu, 13 Mei 2017

Tentang Corpus Callosum = Tentang Seni Komunikasi (?)


Mungkin kita tidak familiar dengan bahasa corpus callosum tapi sudah mengenal bahasa ‘otak tengah’. Yap, corpus callosum ini sering dibahasakan sebagai otak tengah karena dia berfungsi sebagai jembatan komunikasi antara otak kanan dan kiri. Tentu sudah tidak asing disebutkan bahwa otak perempuan berkembang lebih baik dan lebih seimbang daripada laki-laki, bahkan ada mitos yang mengatakan bahwa laki-laki hanya menggunakan satu bagian otak saja. Tapi, apa benar faktanya demikian?