Minggu, 03 Februari 2019

NHW #1 Matrikulasi IIP #7

Akhirnya, setelah melewati tujuh purnama sempat juga nyelesaikan NHW ini. Hehehe, lebay. Jadi, merenungi pertanyaannya sebenarnya udah lama. Udah lama juga dapat jawaban, meski jawabannya gonta ganti sampe dapat yang ini, hehehe. Tapi eh tapi nulisnya ini yang baru sempat detik-detik menjelang tenggat waktu pengumpulan NHW. Huhuhu... Semoga ke depannya bisa lebih baik. Aamiin…

Ini dia NHW-nya

Owkey, bismillah... Ini jawaban saya dari nice homework a.k.a NHW pekan pertama di matrikulasi IIP batch 7.



1.    Jurusan ilmu yang ingin ditekuni
Ada banyaaaak sekali ilmu yang ingin saya tekuni di universitas kehidupan ini. Karna memang sejatinya hidup adalah never ending learning. Eh bener ndak ya istilahnya? Hehehe, ya intinya begitulah. Tapi ada satu ilmu yang ingin saya tekuni, yang menurut saya sangat berkaitan dengan perilaku positif lainnya, yaitu ilmu syukur.

2.    Alasan terkuat
Tentang rasa syukur, ayat Al-Qur’an dan hadits sudah banyak sekali menyebut-nyebutnya. Salah satu ayat yang sangat populer adalah…
Dan (ingatlah) ketika Rabbmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat. [Q.S Ibrahim: 7]
Rasa syukur menjadi jawaban, penenang, penyejuk hati di kala kecewa dan terluka. Betapa dengan rasa syukur segala hal yang terjadi dalam hidup, seberat apapun, sepahit apapun akan terasa ringan. Akan terasa nikmat. Akan tampak segala hikmah di balik suatu kejadian. Karena hati meyakini bahwa apa-apa yang menimpa diri tak lain karena kehendak-Nya. Maka ketenangan yang menyelinap dalam hati adalah sebentuk nikmat yang Allah janjikan bagi hamba yang bersyukur. Tak ada lagi iri melihat hidup orang lain yang lebih kaya, lebih sukses, lebih beruntung, dan lebih-lebih lainnya.

3.    Strategi menuntut ilmu
Tentang ilmu syukur, rasanya tak ada cara terbaik dalam mempelajarinya selain learning by doing. Menerapkan rasa syukur dalam bentuk sekecil apapun. Misal, senantiasa mengucapkan ‘alhamdulillah’ untuk setiap keadaan baik atau buruk sekalipun.
Menimba ilmu syukur dari siapa saja. Terkadang contoh rasa syukur ini datang dari siapa saja, bahkan dari seorang anak kecil sekalipun. Maka, senantiasa mengosongkan gelas agar ilmu baru dapat masuk ke dalam gelas tersebut menjadi strategi yang menurut saya perlu diterapkan.

4.    Perubahan sikap
-        Perbaiki niat
Dalam menuntut ilmu apapun, maka niat untuk meraih ridho Allah haruslah senantiasa ditanamkan dalam hati. Selain itu, setiap ilmu yang dipelajari hendaknya diniatkan untuk diamalkan, bukan semata supaya tahu saja. Begitu juga tentang ilmu syukur ini.
-        Fokus pada kelebihan diri.
Seringkali yang membuat saya lupa bersyukur adalah karena saya selalu merasa kurang. Saya selalu melihat pada kelebihan orang lain hingga sibuk merutuki kekurangan dalam diri. Maka fokus pada kelebihan dan segala apa yang sudah Allah beri menjadi salah satu perubahan sikap yang sangat diperlukan.
-        Menghilangkan sikap merasa sudah tahu.
Ah, ini juga diperbaiki. Tanpa sadar, sikap merasa sudah tahu kadang muncul saat mendengar suatu ilmu disampaikan. Terlebih ilmu syukur yang teorinya banyak sekali orang tahu tapi realisasinya sangat sedikit yang mampu.
-        Tidak merasa lebih baik dari orang lain
Ketika diri mendapat ilmu baru, semisal dalam hal ini hati menjadi semakin mudah bersyukur, penyakit lain yang bisa saja muncul adalah merasa lebih baik dari orang lain. Maka sejak awal penyakit ini harus senantiasa diperangi.


5.  Indikator sukses
Indikator sukses terpenting dalam ilmu syukur adalah penerapannya. Realisasinya dalam tingkah dan laku sehari-hari. Maka indikator pertama dan paling utama dalam menuntut ilmu syukur ini adalah mampu menerapkannya dalam berbagai keadaan. Seburuk apapun keadaan yang tengah menimpa. Indikator lainnya adalah…
-       Senantiasa berterima kasih pada orang lain. Sekecil apapun bantuan, pemberian, atau kebaikan apapun yang orang lain lakukan.
-        Mampu memahami tanda-tanda kekuasaan Allah
Nah, salah satu ‘imbalan’ bagi hamba yang bersyukur adalah ditambahnya nikmat. Menurut saya, nikmat yang luar biasa dari Allah ini tidak akan tampak jika kita tidak mampu memahami tanda-tanda kekuasaan Allah di muka bumi.
-        Selalu merasa cukup dengan pemberian Allah
Perasaan cukup ini akan menimbulkan ketenangan dalam hati hingga tidak hirau dengan perkara duniawi.
-        Meningkatkan ibadah atau amalan yaumiyah sebagai bentuk syukur kepada Allah.

Minggu, 27 Januari 2019

It's Time to Change



Jaman sekarang, jaman media sosial meraja lela, segala bentuk pengaruh positif dan negatif gampang banget masuk. Kita mesti punya benteng yang kuat untuk meminimalkan masuknya pengaruh negatif. Benteng ini sejatinya haruslah dibangun dari keluarga. Keluarga yang kuat nilai-nilai positifnya akan lebih sulit dipengaruhi nilai-nilai negatif. Karenanya sebagai madrasah pertama dan pendamping nahkoda kapal rumah tangga, kita nih, para emak mestinya mampu membawa atmosfer positif dalam rumah tangga. Tentu nggak instan, nggak gampang. Kita dulu yang mesti belajar, berbenah, hingga menjadi bermanfaat.

Nah, ada yang nggak tahu Institut Ibu Profesional gak?

Kayaknya emak-emak milenial dah pada tahu ya komunitas kece satu ini. Kayaknya saya yang telat, karena saya baru tahu IIP ini sekitar tahun 2017. Di mana di tahun 2017 itu saya justru lagi sibuk menjalani program profesi bidan. Pengen banget ikut. Tapi, apa daya. Kesibukan profesi yang bejibun bikin saya nggak berani ambil kelas online macam IIP. Tahun 2018, tahun saya menikah, pengennya ikutan. Eh taunya sudah ketinggalan T.T Akhirnya saya follow media sosial IIP supaya nggak ketinggalan berita. Eng ing eng, bulan Desember lalu dibuka kelas Foundation IIP. Pra Matrikulasi gitu. Begitu tahu, jempol saya langsung gercep daftar dong. Nggak mau ketinggalan lagi. Tentu sebelumnya udah izin pak suami, ya…

Maa syaa Allah, rasanya luar biasa ketemu emak dan calon emak dari berbagai daerah yang tergabung dalam regional Jember Raya. Kayak ngobrol di whatsapp group aja bikin ketularan semangatnya. Nggak ada sebulan, kelas Matrikulasi dibuka. Hari pertama dibuka saya langsung daftar dong. Tapi eh tapi, rupanya buanyak yang lebih gercep. Bener-bener ya semangatnya. Luar biasa! (Kasi tepuk tangan…)

Sampai hari ini, kelas Matrikulasi belum resmi dibuka. Tapi rasanya saya sudah merasa menemukan tempat yang tepat untuk berbenah, memperbaiki diri, menemukan potensi. Iya deh, beneran! Gimana enggak? Dari Stadium Generale kemarin, saya menyadari bahwa IIP ini dihuni, dikelola, dan dihidupkan oleh emak-emak luar biasa. Emak-emak yang nggak cuma ingin kebaikan buat dirinya, tapi juga buat keluarga dan lebih-lebih buat lingkungan di sekitarnya. Ato bahkan buat seluruh wanita di mana pun berada. Keren ‘kan?

Nah, buat berubah dan menjadi bermanfaat itu nggak cuma dengan berada di dalam lingkungan yang kondusif saja. Tapi tekad yang kuat untuk belajar dan berubah itu juga penting banget. Nah, beberapa hari kemarin saya ketinggalan betul dengan atmosfer di IIP karena suami lagi sakit. Setelah pak suami membaik, saat beliau istirahat saya sempatkan mengikuti Stadium Generale dan membaca resumenya. Maa syaa Allah, rasanya langsung tersulut nih semangat belajarnya. Keren, ya? Ikut kelas online aja bisa bikin semangat belajar dan berbenah jadi berapi-api.

Ya begitu. Lingkungan yang kondusif dan tekad yang kuat ini berkesinambungan. Nggak bisa satu aja yang ada. Supaya diri ini nggak terbawa arus perubahan aja, di jaman yang arus perubahan positif dan negatif sama kuatnya, kuatkan tekad dan temukan lingkungan yang kondusif! Menurut saya, gabung IIP ini udah langkah awal yang bener banget! Ya, nggak? Hehehe

Selamat berbenah dan berubah! Berbenahlah sekarang juga!

Btw, ini bukan marketing, ya. Sama sekali bukan. Beneran!


Senin, 12 November 2018

A Journey to S.Keb., Bd



            “Kamu nggak daftar D4, Fin?” kata seorang teman empat tahun lalu, persis ketika saya baru menyelesaikan studi D3 kebidanan. Ketika banyak dari tema-teman saya yang memilih melanjutkan studi D4 kebidanan di sebuah kampus swasta di Kediri.
            “Enggak. Mau nyoba daftar S1 di Unair.” Jawab saya.
            “Hah? Mau daftar di Unair? Kamu nggak bakal diterima.” Ucapnya seraya pergi.
            Entah apa yang membuatnya berkata begitu. Mungkin karena memang satu-satunya jenjang S1 bidan + profesi yang menerima dari D3 hanya ada di Unair. Tapi tak apa, karena tahun berikutnya saya buktikan bahwa ucapannya salah.
            Tidak berhenti sampai di situ. Seorang teman yang juga mendaftar tapi tidak lolos menyebar berita ke adik tingkat bahwa saya bisa lolos di unair karena ada ‘duit’nya. Waktu itu rasanya kesal sekali lalu lama-lama nggak peduli meski ada yang bilang begitu lagi. Karena tahun-tahun berikutnya saya buktikan bahwa bahkan saya bisa masuk 10 besar mahasiswa berprestasi jenjang sarjana hingga profesi bidan FK Unair.
            Lalu akan ada yang nyinyir, “Apa gunanya gelar? Buat sombong doang?” Of course not! Bahkan saya tidak terlalu suka menyematkan gelar di belakang nama saya. Bagi saya yang terpenting adalah ilmu dan pengalaman.
            Kalau sekedar melihat hasil akhir, rasanya menyenangkan. Tapi jika dijalani sendiri, akan tahu bagaimana perjuangannya. Terlebih saya yang sedari awal merasa kurang ‘klik’ dengan profesi ini, rasanya tertatih-tatih menyelesaikannya. Saat di jenjang akademik masih belum terasa, karena yaa kegiatannya biasa saja. Seperti kuliah biasa. Begitu masuk jenjang profesi, keteguhan tekad mulai diuji. Jam tidur berantakan, terlebih lagi makan pun sembarangan, tugas yang teruuuuusss menumpuk seolah patah satu tumbuh seribu, belum lagi ujian yang beranak-pinak. Tak jarang jenuh melanda, tapi mau gimana? Nggak bisa kabur. Nggak kayak waktu skripsi, kalau jenuh bisa ditinggal jalan-jalan, kulineran, haha-hihi sama teman. Lah kalo profesi? Boro-boro kulineran, pulang jaga udah kelaperan, jadi apa yang dilewatin udah itu aja yang dibeli buat makan, hehehe.
Menempuh pendidikan di Unair membentuk sebuah konsep pemikiran baru buat saya. Menajamkan kembali filosofi seorang bidan hingga konsep kebidanannya. Bahwa bidan berbeda dengan perawat, berbeda dengan dokter SpOG. Bahwa bidan bukan sekedar menjalankan advis dokter, bukan sekedar mencegah komplikasi dari faktor risiko, bukan sekedar menurunkan AKI dan AKB. Peran bidan lebih jauh dari itu. Kita dibutuhkan tidak hanya di lapangan pekerjaan tapi juga dalam kehidupan sosial. Soal ini, sepertinya sudah pernah saya bahas di sini.
Ah iya, buat yang lagi menjalani profesi, semangat yaaaaaa :D
Segala perjuangan akan terbayar akhirnya J
Now, I’m starting a new journey…

Minggu, 09 September 2018

Wedding on Budget (?)

Alhamdulillah, bulan Syawal ini Allah jawab doa-doa saya dengan sebuah pernikahan indah nan khidmat. Setelah sebuah lamaran di akhir bulan Rajab yang sangat sederhana, akhirnya disepekati 5 Syawal 1438 H sebagai hari diselenggarakan akad nikah sekaligus walimah sederhana kami.

Saya tidak akan menceritakan bagaimana proses kami bertemu, karna kata suami, biarlah itu menjadi kisah kita sendiri, hehehe.

Tulisan ini dibuat gegara saya dan suami melihat sebuah postingan di Instagram tentang sepasang insan yang menikah dengan budget 50 juta lalu jadi viral. Ketika itu suami saya bilang, ‘Lihat, dik. Begini yang jadi viral. Pernikahan kita habis berapa, dik? 15 juta aja nggak nyampe, ya?’ saya mengangguk. Bahkan untuk 3 acara, akad nikah dan segala perintilannya, walimah di rumah saya, dan walimah di rumah suami cuma menghabiskan dana kurang dari 35 juta. Pantas saja kalo pak suami merasa aneh pernikahan dengan budget 50 juta jadi viral, hehe.

Sejak lamaran, kami sudah menyukai kesederhanaan. Dalam tradisi di lingkungan saya, lamaran ini mewah bener. Bawaannya buanyak, makanan yang dihidangkan juga buanyak, yang hadir juga buanyak, dan diceritakan sekaligus dipublish kesana kemari. Maka ketika itu suami berpesan, ‘Saya ingin khitbah ini rahasia. Karena sunnahnya begitu.’ Jadilah acara khitbah atau lamaran kami super simpel. Dari pihak suami memberikan kue-kue sederhana dan secukupnya. Keluarga kami juga menyiapkan makanan secukupnya, tidak terlalu banyak. Begitu pun yang hadir. Tidak banyak, tidak heboh. Menjaga supaya tetap jadi ‘rahasia’ meski tentu tidak bisa sepenuhnya rahasia. Tapi setidaknya kami berusaha tidak cerita kesana kemari. Tidak perlu posting di media sosial juga.

Selama dua bulan persiapan, jangan tanya soal gimana sibuknya nyari WO, cattering, jasa rias pengantin, jasa fotografer, de el el. Saya nggak pake semua itu. Baju pengantin dan perintilannya saya cari sendiri, keluar masuk mall dan butik. Sibuk wara wiri nyari penjahit yang bisa cepat dengan harga terjangkau. Masa-masa pencarian itu ada saksi hidupnya lho, hahaha. Baju akad saya beli gamis putih yang tampak pantas dipakai seorang pengantin dipadukan dengan pashmina putih satin silk dan dihiasi melati. Melati ini permintaan ibu saya. Biar ada bau-bau pengantin katanya, hehe.

Jasa cattering? Nggak pake! Alhamdulillah Allah karuniakan saya keluarga yang kompak. Maka segala kebutuhan jejamuan keluarga suami sampai tamu ditangani oleh Budhe dan Bulek saya. Kami juga nggak nyewa jasa fotografer. Kenapa? Karna kalo nyewa jasa fotografer membuka peluang yang lebih besar untuk kemudian upload foto-foto pernikahan di media sosial. Boro-boro, foto pake hp aja masih gatel ini tangan pengen upload ke medsos, hahaha. Alhamdulillah suami sabar ngingetin. Eh, saya tidak menyalahkan mereka yang mengupload foto pernikahan di medsos. Saya dan suami hanya berusaha menjaga diri saja J

Oh soal jasa rias pengantin? Nggak ada! Saya dandan sendiri, hehehe. Saya bukan orang yang pandai berdandan macam beuty vlogger itu. Perlengkapan make up saya pun standar aja. Tapi saya memberanikan diri dandan sendiri karena mencari jasa rias pengantin yang memperhatikan kaidah syar’i di lingkungan saya itu sulit. Pun ketika itu saya mikirnya, biar hemat aja lah. Bayar rias pengantin 500rb tapi saya maunya make up nya tipis, nggak usah cukur alis, nggak pake bulu mata palsu, kan rugi! Hehehe. Jadilah saya dandan sendiri. Meski 1-2 hari sebelum acara sebagian besar orang mempertanyakan “Beneran nih dandan sendiri?” tapi akhirnya semua bilang ‘cantik’ waktu liat hasil dandanan saya, hehehe. Iya, saya mah maunya gitu. Saya nggak mau keliatan cantik pake make up, saya mau keliatan cantik apa adanya saya. Wkwkwkwk, alesan! Maksudnya biar hemat.

Apalagi? Soal jasa dekor? Nggak ada! Nggak pake! Hehehe. Akad nikah saya di mushollah milik keluarga, para tamu walimah menyaksikan di dalam dan di pelataran mushollah. Walimah di rumah saya hanya mengundang bapak-bapak untuk diberi jejamuan sekaligus menyaksikan prosesi akad kemudian sudah. Ketika proses akad saya di dalam kamar, grogi sambil main hp, hehehe. Ditemenin ibu, adik, dan keluarga lain. Sekitar 2 jam, acara selesai lalu berkas-berkas yang perlu saya tanda tangani dibawa ke kamar tempat saya menunggu. Lalu saya keluar untuk menemui laki-laki yang sudah sah menjadi suami saya ketika para tamu sudah pulang. Trus sedikit foto-foto pake hp pura-pura tanda tangan berkas padahal udah di tanda tanganin, hehehe.

Empat hari sejak acara di rumah saya, digelarlah walimah di rumah suami. Nah acara walimah di rumah suami malah lebih sederhana. Saya dan suami memakai baju sepantasnya, hanya gamis warna mocca kombinasi hitam yang senada dengan kemeja suami. Lalu kami ikut sibuk menyambut tamu. Mempersilakan para tamu makan, ngobrol, lalu melepas para tamu yang berpamitan. Sudah, begitu saja. Tidak ada musik, tidak ada pelaminan, tidak ada kehebohan ini itu, tidak ada. Hanya begitu.

Lalu, ada yang komen “Itu kan acara sekali seumur hidup? Nggak apa lah dihebohin, biar ada kenangannya.” Justru karena sekali seumur hidup jangan sampai bikin kita menyesal karena menghalalkan apa yang diharamkan. Lalu, apakah acara pernikahan kami sempurna sesuai syari’at? Tentu tidak. Tapi kami berusaha sebisa mungkin mengikuti apa yang sudah disyari’atkan. Kalo kata suami, “siapa tau bisa jadi contoh, oh ada loh pernikahan yang seperti itu. Karena sebenarnya kalo mau ngikut syari’at, nikah itu murah.” Semoga bermanfaat J

Senin, 23 April 2018

Jadi, Bidan tuh Siapa?





            Halo para bidan dan calon bidan seantero Indonesia, apa jawaban kalian jika ada pertanyaan seperti itu? Lalu apa jawaban kalian jika ada pertanyaan, apa bedanya bidan dengan perawat maternitas, dokter, dan dokter SpOG?
            Dulu, saat pertama kali masuk D3 kebidanan saya bisa menjawab dengan teoritis bahwa bidan begini, perawat begitu, dan dokter begindang. Tapi, makin lama justru makin bingung karena di lapangan perbedaannya agak nggak jelas. Terutama soal penatalaksanaan ke pasien. Tatalaksana dokter ngasi obat, eh bidannya juga. Jadi fungsi bidan sebenarnya sama kayak dokter ato enggak?
            Bertahun-tahun sekolah dan beberapa bulan sempat kerja di salah satu Puskesmas di Situbondo, akhirnya ada secercah jawaban.