Selasa, 22 Agustus 2023

Merdeka Tapi Tidak Merdeka

 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, merdeka memiliki tiga arti berbeda. Yang pertama, bebas dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya. Ini jelas berkaitan dengan arti merdeka yang kita pahami pada setiap perayaan 17 Agustus. Lalu yang kedua, tidak terkena atau lepas dari tuntutan. Ini memiliki arti yang mirip dengan arti pertama tapi lebih umum. Dan yang terakhir adalah tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu, atau leluasa.

Dulu ketika masih kuliah, ada materi kuliah yang berjudul "Woman-centered Care" atau pelayanan yang berfokus pada perempuan. Pada praktik pelayanan ini, seorang bidan harus menganggap perempuan sebagai pribadi yang berdaya dan unik. Setiap pelayanan dan pengambilan keputusan atas tindakan medis harus didasarkan pada kekhususan dan kebutuhan masing-masing perempuan. Dan perempuan memiliki hak sepenuhnya atas dirinya sendiri. Tapi pada praktiknya di lapangan, kami sulit menerapkan ini karena kebanyakan perempuan masih belum merdeka. Mereka tidak leluasa mengemukakan pendapat dan kebutuhannya, sulit untuk tidak terikat pada aturan tak tertulis di masyarakat yang selalu mendahulukan pria di atas perempuan, dan pada keadaan yang lebih ekstrem, sebagian perempuan bahkan sangat bergantung ada pihak tertentu sampai-sampai tidak memiliki hak atas dirinya sendiri.

Tak jarang ada kasus rujukan yang sudah sangat terlambat karena pengambilan keputusan untuk merujuk si ibu bergantung pada keputusan keluarga besar suami. Yang ketika itu keluarga besar tidak setuju untuk merujuk, sehingga bidan harus membujuk sedemikian rupa agar nyawa sang ibu terselamatkan. Tidak sedikit pula seorang perempuan datang seorang diri ke tempat praktik bidan, berbisik takut-takut meminta pil kontrasepsi. Karena suaminya tak mengizinkannya menggunakan alat kontrasepsi untuk mengatur jarak anak sedangkan secara fisik, psikis, bahkan finansial si ibu merasa belum mampu menambah anak lagi. Atau dalam kasus yang lebih menyayat hati, seorang ibu nifas terpaksa dirawat inap karena anemia dan kelelahan. Pasalnya, ia harus tetap terjaga meski mengantuk karena anggapan di masyarakat yang umum menyebutkan bahwa ibu nifas tidak boleh tidur siang. Sampai pada taraf paling bikin nyesek menurut saya adalah si ibu anemia karena kekurangan gizi. Di mana di keluarga suaminya, istri tidak boleh makan lebih dulu dari suami dan jika ada lauk protein hewani, istri hanya boleh makan jika suami sudah makan.

Miris, bukan?

Begitu juga soal hak mendapatkan pendidikan. Banyak perempuan yang belum merdeka untuk ini. Terutama mereka yang sudah menjadi ibu dan istri. Sebagian suami merasa istri mereka cukup mengurus anak dan rumah, enggan memberi ruang dan waktu bagi istri untuk menuntut ilmu dan berkembang. Padahal, istri yang berwawasan luas tentu akan bisa menjadi teman diskusi yang menyenangkan.

Bangsa ini mungkin memang merdeka dari penjajahan dan perbudakan, tapi sebagian masyarakatnya sejatinya masih belum merdeka. Dan salah satunya adalah perempuan. Saya berharap ada semakin banyak orang di luar sana yang menyadari bahwa dalam rumah tangga perempuan itu bukanlah 'orang nomor dua' yang tidak berhak berpendapat, tidak boleh mengembangkan diri, bahkan tidak diberi ruang untuk mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Karena sejatinya, istri adalah pemimpin di rumah suaminya.

Selasa, 15 Agustus 2023

Mendekat ke Hati Lewat Komunikasi

 

Bicara soal perjuangan, kata orang, lima tahun pertama pernikahan adalah yang paling berat. Proses penyesuaian antara dua insan yang memiliki pengalaman dan latar belakang berbeda terkadang membuat penat. Tak jarang ketika terjadi perbedaan pendapat, istri memilih diam dan suami pun malas berdebat. Lalu yang tersisa hanyalah unek-unek yang semakin lama semakin berkarat.

Saya pun demikian, merasa bahwa ada yang tak beres dalam hubungan kami begitu memasuki tahun kelima pernikahan. Menyikapi perbedaan dengan suami tak lagi terasa ringan. Salah paham kerap kali menghiasi obrolan. Hingga akhirnya pada suatu kesempatan, saya sadar bahwa ada yang perlu dibenahi dalam pola komunikasi saya dan pasangan. Hanya saja, saya tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Beruntung, ketika itu saya sedang belajar di kelas Bunda Sayang. Salah satu jenjang perkuliahan di Ibu Profesional untuk ibu dan calon ibu yang ingin berkembang. Salah satu materinya adalah tentang komunikasi produktif, ada tantangan penerapan selama 14 hari agar pemahaman semakin matang.

Dan... beginilah cara saya berjuang.

Mengenali gaya komunikasi saya dan suami

Hal paling pertama yang saya lakukan adalah mengenali gaya komunikasi kami. Perbedaan pengalaman, pengasuhan, dan pengetahuan tentu akan memengaruhi gaya komunikasi. Ketika saya menyadari bahwa gaya komunikasi saya cenderung pasif, agaknya suami justru pasif agresif saat berinteraksi. Ketika saya lebih banyak menghindari konflik, ternyata suami seringkali memendam protes di dalam hati. Maka tak heran jika obrolan kami kerap hanya menggantung tak bertemu solusi.

Menyusun strategi dan memperbaiki diri

Setelah mengenali kawan bicara saya, selanjutnya adalah menyusun strategi. Strategi yang saya gunakan adalah memperbaiki diri, berpedoman pada sebuah quote dari Bu Septi.

For things to change, I must change first

Jika saya ingin mengubah sesuatu, maka saya perlu berubah lebih dulu. Perlahan-lahan, satu persatu, saya coba untuk mengubah cara saya dalam menyampaikan sesuatu. Sambil menyesuaikan dengan apa yang suami mau.

Dan inilah strategi yang menurut saya cukup jitu:

1. Choose the right time

Mencari waktu terbaik. Jika ada konflik, saya akan menunggu sampai suasana hati kami membaik. Lantas menyusun kalimat yang lugas dan apik. Menyampaikan ke pasangan pun dengan cara yang paling baik.

2. Clear and clarified 

Usai pesan tersampaikan, beri waktu untuk proses klarifikasi. Jangan menunda untuk menanyakan pemahaman pasangan dan meluruskan hal-hal yang mungkin salah dipahami.

3. Transfer of feeling

Berbicara dari hati ke hati, menyingkirkan semua distraksi. Gunakan bahasa tubuh agar lebih mudah dimengerti. Karena komunikasi bukan hanya soal komunikasi verbal, tapi juga gerak tubuh dan intonasi.

4. Eye contact

Mempertahankan kontak mata. Terkadang lisan terbatas dalam menyampaikan kata, tapi kontak mata yang lembut dan terbuka mungkin akan menguak apa yang sulit disampaikan dengan bicara.

5. I'm responsible for my communication results

Terakhir, menyadari bahwa saya adalah yang paling bertanggung jawab dengan hasil komunikasi. Bukan menyalahkan suami, apalagi situasi. Ketika pesan saya salah dipahami, mungkin ada cara atau diksi yang perlu diperbaiki.

Hingga hari ini, saya masih berjuang mencari cara terbaik dalam berinteraksi dengan suami. Karena ternyata, yang sulit itu bukan menebak apa maunya istri, tapi menjelejahi isi hati suami. Dan setelah menerapkan hal-hal saya sebutkan tadi, ada beberapa perubahan yang saya sadari. Salah satunya adalah saya bisa lebih terbuka dalam menyampaikan maksud hati, dan imbasnya suami memahami apa yang saya kehendaki.

Ada satu pesan dalam buku Ustadz Fauzil Adhim yang membuat saya semakin menyadari betapa pentingnya komunikasi dengan pasangan. Belakangan ini, gadget seolah menjadi hiburan terbaik usai bekerja seharian. Padahal, di dalam rumah ada anak dan istri yang bisa diajak mengobrol dan melempar candaan. Bercakap-cakap dengan pasangan tak hanya untuk membangun kedekatan, tapi juga ada pahala yang Allah limpahkan.


Referensi:

Adhim, Muhammad Fauzil. (2013). Segenggam Iman Anak Kita. Yogyakarta: Pro-U Media

Mantiri, Hamidah Rina. (2023). Komunikasi Produktif. Materi kuliah Bunda Sayang Batch 8

Minggu, 06 Agustus 2023

Frugal Living, Bukan Cara Cepat Kaya

Frugal living, satu istilah yang belakangan ini banyak menghiasi media sosial. Konten tiktok, reels intagram, sampai artikel di media pun membahas hal ini. Beberapa konten mendefiniskannya dengan bijak dan cukup tepat, namun sebagian lain sekedar menunjukkan bahwa frugal living adalah hidup hemat. Padahal, it's bigger than that!

Mindfullness

Istilah frugal living tidak dapat dipisahkan dengan mindfullness. Kesadaran penuh dalam menggunakan uang dan fokus pada tujuan finansial. Ya, bukan sesederhana berhemat secara brutal sampai terkesan pelit, tapi secara sadar menggunakan uang untuk hal-hal yang benar-benar dibutuhkan. Bukan sekedar keinginan sesaat karena lagi diskon atau ikut-ikutan tren alias FOMO (fear of missing out).

Sebelum mengeluarkan uang untuk membeli barang, seseorang yang menerapkan frugal living akan secara sadar memilih mana barang yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang sekedar keinginan semata. Selain sesuai kebutuhan, standar fungsi akan menjadi pertimbangan tertinggi kedua sebelum membeli. Bukan merk apalagi bentuknya yang lucu. Maka biasanya, mereka akan lebih memilih produk lokal yang murah dan berkualitas daripada merk high class dengan kualitas serupa. Akan lebih memilih memasak sendiri di rumah alih-alih menghabiskan uang beberapa kali lipat hanya untuk sekali makan di restoran. Nah, karena pilihan ini, umumnya orang-orang yang menerapkan frugal living akan terlihat 'sederhana'.

Frugal Living meringankan hisab di hari akhir

Setelah membaca beberapa artikel tentang frugal living, saya jadi menyadari bahwa ternyata saya dan suami adalah salah satu praktisinya. Berangkat dari uang bulanan dari orang tua yang pas-pasan saat kuliah dulu, saya belajar untuk memetakan kebutuhan bulanan saya. Dan supaya lebih mudah melakukan evaluasi finansial, saya pun terbiasa mencatat setiap pengeluaran. Sekecil apapun, walau itu hanya uang seribu rupiah untuk beli gorengan.

Lambat laun, gaya hidup ini menjadi kebiasaan. Hingga akhirnya saya menikah dan bertemu dengan orang yang menerapkan gaya hidup serupa. Namun, ada satu alasan yang membuat kami tetap menerapkan frugal living meski keadaan ekonomi membaik. Yaitu, kekhawatiran akan hisab kelak.

Setiap barang yang dibeli, setiap rupiah yang dikeluarkan, kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Untuk apa digunakan? Apakah tersia-sia atau justru amat berguna?

Jadi, setiap kali akan membeli barang, saya (terutama suami) biasanya akan mempertanyakan 'untuk apa?'. Sebelum eksekusi, pertanyaan ini akan membangun diskusi di antara kami. Terutama untuk barang-barang yang cukup mahal. Sekalipun butuh, jika masih bisa ditunda kami akan lebih memilih menunda dan menabung alih-alih memakai uang tabungan yang sudah dialokasikan untuk hal lain.

Terhindar dari hutang


Dengan budgeting, mengeluarkan uang secara sadar, dan tidak FOMO, menerapkan frugal living juga dapat membantu terhindar dari hutang. Percayalah, hidup tanpa hutang itu sungguh menenangkan meski penghasilan tak besar, hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan menabung sedikit-sedikit. Ribuan tahun lalu, Rosulullah SAW sudah pernah mengingatkan tentang ini.

"'Jangan kalian meneror diri kalian sendiri, padahal sebelumnya kalian dalam keadaan aman.' Para sahabat bertanya. 'Apakah itu, wahai Rosulullah?' Rosulullah pun menjawab, 'Itulah hutang!'" (HR. Ahmad, Ath-Thabrani dalam Mu'jamul Kabir, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah)

Rosulullah sampai menyebutkan hutang sebagai sebuah teror. Dan betapa dahsyatnya teror hutang ini, bahkan ada doa khusus agar terlepas dari lilitan hutang. Sebuah doa yang Rosulullah ajarkan kepada Abu Umamah untuk dibaca pagi dan sore hari dengan harapan Allah melunasi hutang-hutangnya.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ 

Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kebingungan dan kesedihan. Aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan. Aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir. Aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan kezalima manusia"

Bagi kami, frugal living bukan hanya sebuah cara untuk mencapai tujuan finansial di dunia apalagi sekedar cara agar cepat kaya. Karena ada banyak sekali kebaikan yang bisa didapat dengan menerapkan hal ini. Dan selayaknya seorang muslim, kebaikan-kebaikan itu kami harap dapat membantu kami hidup bahagia di dunia dan akhirat. Memberatkan timbangan amal kebaikan dan meringankan hisab dari harta yang kami habiskan.

Wallahu a'lam bish-shawab...

Referensi:

Kumok, Zina. (30 April 2020). Frugality: Explanation & Top Frugal Living Tips. Diakses pada 5 Agustus 2023, dari https://www.wealthsimple.com/en-ca/learn/frugal-living#frugality_blogs_worth_following 

Nashrullah, Nashih. (15 November 2022). Doa dan Dzikir Agar Terbebas dari Hutang Sesuai Tuntunan Nabi Muhammad SAW. Diakses pada 5 Agustus 2023, dari https://iqra.republika.co.id/berita/rldfke366/doa-dan-dzikir-agar-bebas-dari-lilitan-utang-sesuai-tuntunan-nabi-muhammad-saw

Purnama, Yulian. (16 Agustus 2021). Hadits-hadits tentang Bahaya Hutang. Diakses pada 5 Agustus 2023, dari https://muslim.or.id/68043-hadits-hadits-tentang-bahaya-hutang.html

Selasa, 01 Agustus 2023

Siapa yang nggak kenal dengan infeksi tuberkulosis atau yang biasa disingkat dengan TBC ini?

Saya yakin, mayoritas kita sudah tahu soal penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri mycobacterium tuberculosis ini. Infeksi TB pada orang dewasa biasanya akan ditandai dengan batuk lama, demam, dan berat badan yang turun drastis. Tapi, infeksi TB pada anak-anak umumnya bahkan tidak bergejala. Hanya saja, berat badan yang sulit naik bisa menjadi alarm adanya infeksi bakteri ini.

Dan inilah yang terjadi pada anak saya. Kisah awal mula saya menyadari adanya weight faltering pada anak kedua saya ini bisa dibaca di sini, ya!

Positif TB!

Setelah melakukan serangkaian screening adanya infeksi tersembunyi, tibalah hari di mana kami harus mendengarkan hasil dari pemeriksaan laboratorium. Sembari menunggu dipanggil masuk ke poli anak, Maryam dirujuk ke poli radiologi untuk foto thorax. Dan tepat ketika nama anak kami dipanggil, hasil foto thorax juga sudah bisa diambil. Jadi semua hasil pemeriksaan sudah lengkap.

Alhamdulillah, dari hasil pemeriksaan urin dan darah semuanya normal. Sayangnya, hasil pemeriksaan tes mantoux dan foto thorax menunjukkan bahwa ada indikasi infeksi TB. Diameter indurasi atau pembengkakan area yang dilakukan tes mantoux sekitar 15 mm di mana 10mm saja sudah dinyatakan positif.

Foto hanya ilustrasi. Foto asli diambil pake hp lama, nggak tahu file-nya di mana
Foto hanya ilustrasi. Foto asli diambil pake hp lama, nggak tahu file-nya di mana

Lalu, dari hasil foto thorax dan pemeriksaan fisik juga ditemukan adanya pembengkakan kelenjar. Sampe akhirnya ketika ditotal, skor Maryam waktu itu kalau nggak salah adalah 7. Di manan skor 6 saja sudah cukup untuk menegakkan diagnosis TB pada anak.

Ini tabel scoring TB pada anak

Mencari Second Opinion

Lalu, bagaimana perasaan saya ketika anak saya terdiagnosis TB?

Sejujurnya, saya lega. Akhirnya penyebab yang bikin BB anak saya susah naik ternyata infeksi TB. Jadi ke depannya sudah jelas apa yang perlu saya lakukan. Yaitu mengikuti pengobatan TB rutin selama 6 bulan. Saya benar-benar legowo, sama sekali nggak denial. Tapi ternyata, tidak begitu dengan suami saya.

Keesokan harinya, suami saya ngajak periksa ke dokter spesialis anak yang lain. Mencari second opinion. Saya setuju. Ada baiknya memang berkonsultasi tidak hanya pada satu dokter. Tapi saya nggak berharap dokter kedua bakal bilang bahwa si dokter pertama itu salah diagnosis. Saya benar-benar sudah menerima kalau memang anak saya terinfeksi TB. Dan ternyata benar, dokter spesialis anak yang kedua ini memberikan penjelasan dengan lebih detail pada kami bahwa memang anak kami positif TB. Karena itu, si kakak juga harus dilakukan pemeriksaan.

Maka, Isa juga melakukan rangkaian pemeriksaan yang sama dengan adiknya ketika adiknya sudah memulai pengobatan TB. Dan genap dua pekan setelah Maryam terdiagnosis TB, Isa juga dinyatakan positif TB. Bahkan, menurut dokter, sepertinya Isa yang lebih dulu terinfeksi.

Mulai Pengobatan

Saat memulai pengobatan si adik, saya sama sekali nggak menemukan kendala. Karena dosis obat Maryam sedikit dan dia juga masih bayi, nggak bisa banyak berontak, proses meminumkan obat tiap hari nggak terlalu menyulitkan buat saya. Tapi, semua berubah ketika kami harus berusaha meminumkan obat TB pada si kakak.

Saat terinfeksi, usia Isa sekitar 2,5 tahun. Sudah cukup besar untuk memberontak bahkan memuntahkan obatnya. Maka di sinilah ujian kami. Meminumkan obat TB ke Isa itu susahnya luar biasa. Padahal kami sudah pake OAT (obat anti tuberkulosis) khusus anak, ada rasa manisnya. Diminumin pake pipet, dilepeh. Diminumin pake sendok, disembur. Sampai cara yang paling ekstrem yaitu diminumin langsung satu tablet tanpa digerus.

Begini penampakannya. Dapat gratis dari Puskesmas

Alhamdulillah, ternyata dia lebih bisa begitu. Tapi, nggak berhenti sampai di situ. Semakin lama berat badan Isa semakin naik, maka tentu dosis obat juga akan ditingkatkan. Yang awalnya Isa hanya perlu minum 2 tablet, pada sekitar bulan keempat dia sudah harus minum 3 tablet. Makin susah lah proses meminumkan obat ke Isa.

Alhamdulillah, semua proses pengobatan itu sudah terlewati. Dan selama 6 bulan pengobatan, kami nggak bilang ke siapa-siapa. Tapi kami benar-benar membatasi aktivitas anak-anak untuk tidak bermain sembarangan apalagi bepergian. Mencegah terinfeksi atau tertular penyakit lain, karena tanpa sakit pun mereka sudah harus minum OAT. Saya yang nggak sanggup kalau harus ditambah obat lain T.T

Begitulah... setiap keluarga memiliki ujiannya sendiri-sendiri. Keluarga yang terlihat adem ayem, suami istri baik, anak-anak tumbuh sehat bahagia, finansial stabil, belum tentu tidak memiliki ujian. Hanya saja, mungkin mereka pandai menyembunyikannya.

Oh ya, kalau ada yang bertanya kok bisa kena TB? Apa nggak diimunisasi?

Alhamdulillah, anak-anak kami semua diimunisasi lengkap. Jadi perlu diingat, imunisasi tidak 100% mencegah anak tertular penyakit. Namun, imunisasi dapat mencegah sakit berat, cacat, atau kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

Lewat tulisan ini, saya juga ingin mengingatkan, jangan pernah menyepelekan BB anak yang susah naik. Meski cuma 2 kali berturut-turut, apalagi sampai 3 kali berturut-turut kayak saya. Segera periksakan ke dokter spesialis anak. Kalau ternyata cuma perlu perbaikan menu makan, alhamdulillah. Tapi kalau ternyata ada infeksi, tentu perlu segera dapat penanganan yang tepat.

Minggu, 20 Maret 2022

Semai Harapan Ibu Profesional Foundation 12

 


Awal tahun 2019, pertama kali saya mengenal secara resmi Ibu Profesional dengan bergabung di kelas matrikulasi batch 7. Beberapa minggu berlalu, saya mulai beradaptasi dengan kawan-kawan baru yang luar biasa. Mengunyah materi yang diberikan dengan semangat, mengerjakan tugas yang juga saya unggah ke blog ini. Namun, saat kelas belum selesai, akhirnya tanda cinta dari bayi yang saya kandung saat itu muncul. Alhamdulillah, Isa lahir di tengah-tengah ibunya sedang belajar.

Drama masa nifas dan menyusui ternyata sangat menguras energi untuk ibu baru macam saya saat itu. Akhirnya sisa kelas matrikulasi IP saya jalani dengan setengah hati dan semangat yang juga setengah-setengah. Alhamdulillah saya tetap berhasil lulus. Tak lama setelahnya, wacana Ibu Profesional New Chapter mulai terdengar. Member lama diminta herregistrasi. Dan tentu saja, saya yang masih beradaptasi dengan peran baru sebagai ibu akhirnya memilih utk menunda herregistrasi.

Tepat 3 tahun setelahnya, saat saya sudah jadi ibu dari 2 anak, barulah saya membulatkan tekad utk ‘melanjutkan’ perjalanan menyemai bahagia di Ibu Profesional. Bergabung dengan Foundation 12.

Maa syaa Allah, Alhamdulillah. Bertemu teman-teman satu penginapan yang super baik, penuh semangat, menyebar positive vibes yang sampai juga ke dalam diri saya, rasanya bahagia sekali. Belum lagi materi-materi padat nutrisi yang menjadi menu makan utama dan kudapan selama kelas berlangsung. Saya jadi kembali menemukan alasan untuk tetap semangat dan bersungguh-sungguh menjalankan peran sebagai ibu. Rasa lelah yang sering melanda usai menjalani kegiatan sehari-hari yang begitu-begitu saja berubah menjadi rasa syukur karena telah diberi kesempatan untuk menjadi madrasah pertama dan utama untuk anak-anak yang Allah titipkan pada saya. Perasaan yang membuncah, yang sulit dideskripsikan dengan kata-kata.

Ah, ibu. Wanita yang seharusnya dimuliakan ini belakangan justru sering menjadi sasaran hate comment atau hate speech. Direndahkan karna tak berpenghasilan, dianggap tak sempurna hanya karna melahirkan secara SC, hanya karna anak-anak mereka terlihat tak sehebat anak-anak lain, hanya karna tidak pandai memasak, hanya karena tidak pandai beberes rumah, seorang ibu pun kerap kali dianggap tak becus karena meninggalkan anak-anak mereka untuk pergi bekerja, pun tak jarang dihina fisiknya karena tak lagi langsing dan mulus seperti gadis, dan lain-lain.

Maka, Bu… Berbahagialah!

Tidak sulit, kok, menemukan bahagia itu. Apa saja yang membuat kita bahagia, lakukanlah. Kalau saat bangun pagi kita bahagia melihat rumah yang rapi, maka rapikan sebelum tidur. Kalau kita bahagia saat membaca buku, maka lakukanlah saat anak-anak tidur siang. Kalau kita senang belajar, maka ikutlah kelas-kelas dan komunitas semacam IP ini.

Ingatlah, bahwa kebahagiaan itu bergantung pada diri kita sendiri. Bukan orang lain. Bahkan bukan dari pasangan kita sendiri.

Aduh, saya jadi nggak sabar menunggu jenjang selanjutnya dalam IP New Chapter ini. Oh iya, karena saat penjurusan saya memilih institut, saya pun tak sabar untuk segera belajar bersama ibu-ibu lain. Mengarungi Samudra Matrikulasi, Pulau Bunda Sayang, Hutan Kupu-kupu Cekatan, dan seterusnya.

Saya berharap, dengan seiring berjalannya waktu, seiring bertambahnya jam terbang dalam belajar dan bermain di Institut Ibu Profesional, maka bertambah pula kecintaan saya pada peran saya sebagai ibu ini. Pun bertambah pula kemuliaan diri ini dengan perbaikan akhlak dan pola pikir yang terus bertumbuh. Dan juga, dengan semakin bertambahnya sirkel pertemanan positif dalam lingkup regional Ibu Profesional, semoga menjadi wadah pengingat bagi saya agar terus semangat untuk berkembang, berkarya, berbagi, dan berdampak.

Senin, 14 Maret 2022

Berhadapan dengan Weight Faltering

 


Setelah mengantarkan Isa, anak pertama saya, melewati masa 1000 HPK dengan sangat baik, saya pikir akan begitu juga dengan anak kedua saya. Segala kemudahan yang Allah berikan selama membesarkan Isa, saya pikir juga akan dialami anak kedua. Tapi, memangnya ada hidup yang lurus-lurus aja kayak jalan tol? Di jalan tol saja masih bisa ada cobaan, misal pengendara lain yang ugal-ugalan atau mobil kita yang tiba-tiba bermasalah.

Yah, kira-kira begitulah hidup. Pasti ada saja ujiannya. Maka akhirnya, saya berhadapan dengan masalah pertumbuhan yang paling saya hindari di anak kedua. Weight faltering atau gagal tumbuh, ditandai dengan kenaikan berat badan yang kurang dari KBM (Kenaikan Berat badan Minimal) setiap bulan selama dua bulan berturut-turut.

Berawal dari Maryam, anak kedua saya, berusia empat bulan. Kenaikan BB-nya saat itu hanya 400 gram yang harusnya 600 gram. Saat itu saya langsung memperbaiki posisi menyusui, memperbaiki perlekatan, memperhatikan dengan seksama durasi tiap menyusui, mengonsumsi makan-makanan bergizi, suplemen menyusui, ASI booster, dan tidak lupa untuk tetap bahagia.

Bulan berikutnya, saat Maryam berusia lima bulan, kenaikan berat badannya makin mengkhawatirkan. Saat itu, Maryam hanya naik 300 gram yang harusnya naik 500 gram. Apakah saya panik? Tentu saja. Rasanya, saya mau langsung bawa anak saya ke dokter anak. Tapi karena kondisi pandemi, akhirnya saya urungkan. Saya masih akan berusaha memperbaiki asupannya sebisa mungkin.

“Bulan depan, kalau kenaikan BB Maryam masih di bawah KBM, Maryam harus dibawa ke dokter anak”. Begitu yang saya sampaikan ke suami. Alhamdulillah suami setuju.

Di antara usaha untuk memperbaiki asupan nutrisi Maryam, anak kedua saya itu akhirnya mulai MPASI di usia 5 bulan 3 minggu. Tentunya setelah memenuhi semua tanda kesiapan makan, ya. Alhamdulillah, permulaan MPASI yang baik. Jauh lebih baik dari kakaknya. Saya bersyukur sekali. Harapan untuk memperbaiki BB-nya terlihat jelas di depan mata.

Beberapa minggu berlalu, Maryam tetap tidak terlihat ‘menggemuk.’ Sampai akhirnya tibalah waktunya menimbang BB bulanan. Saat itu sudah masuk ke bulan ketujuh. Dan jeng jeng! Ternyata BB Maryam hanya naik sebanyak 200 gram yang harusnya 400 gram. Apa saya sedih? Tentu saja! Tapi, nggak ada waktu untuk bersedih. Keesokan harinya, saya langsung mendaftarkan Maryam ke poli anak Rumah Sakit Umum.

Saat itu kalau tidak salah hari kamis di bulan November 2021. Setelah menunggu tak terlalu lama, nama Maryam dipanggil. Karena kondisi pandemi, hanya boleh dua orang yang masuk termasuk pasien. Maka saya masuk ke ruang pemeriksaan poli anak dengan menggendong Maryam. Saya jelaskan kondisi Maryam segamblang mungkin. Setelah penjelasan yang panjang lebar, dokter meminta agar Maryam dibaringkan kemudian diperiksa. Saat itu, Maryam tak hanya diperiksa kemungkinan adanya tanda infeksi, tapi juga diperiksa pertumbuhannya. Yaitu panjang badan dan lingkar kepala.

Alhamdulillah, panjang badan dan lingkar kepala Maryam normal. Pun tidak ditemukan adanya tanda-tanda infeksi. Maka dokter mulai menyusunkan menu untuk Maryam. Memberi saran soal aturan makan yang sama persis dengan yang saya ketahui. Lalu, karena Maryam bisa minum ASIP dengan disendokin, dokter menyarankan untuk memberi ASIP yang dicampur dengan bubuk khusus untuk meningkatkan kalori ASI. Saat itu, dokter menetapkan target kenaikan BB untuk Maryam dalam dua pekan adalah 250 gram. Target yang cukup rendah ya, mengingat bayi usia 6-7 bulan harusnya naik 400 gram sebulan.

Begitu sampai rumah, saya langsung melaksanakan saran dokter. Mulai dari bubuk khusus itu sampai menu makan Maryam. Kami, saya dan suami berusaha mematuhi semua saran dari dokter. Sayangnya, kendala yang datang bukan dari eksternal, melainkan dari internal Maryam sendiri. Anak saya itu tidak bisa makan banyak. Padahal menurut dokter, lambungnya cukup besar untuk diisi makanan padat sebanyak 60ml. Tapi, daripada dia trauma dipaksa makan, saya coba tetap menghargainya saat dia sudah tidak mau makan lagi.

Ah, iya. Waktu pertama kali saya periksa ke RS, saya nggak pakai BPJS. Dan ternyata setelah selesai pemeriksaan dan konsultasi, salah seorang perawat memberitahu saya bahwa kasus Maryam (weight faltering) bisa konsul ke dokter anak menggunakan BPJS. Alhamdulillah, senang sekali rasanya. Karena dua minggu kemudian, waktunya Maryam kontrol dan ternyata target kenaikan BB yang harusnya dicapai Maryam sama sekali tidak tercapai. Maryam cuma naik 100 gram!

Nangis bombay? Enggaklah. Hehehe. Saat itu saya sudah siap dengan segala kemungkinan. Termasuk kemungkinan terburuk.

“Kalau begitu, kita lakukan screening, ya, Bu?” Begitu kata dokter setelah mengetahui bahwa target kenaikan BB tidak tercapai dan semua saran dari dokter sudah berusaha kami terapkan.

Nah, screening apa nih yang dimaksud? Screening kemungkinan adanya infeksi tersembunyi. Pemeriksaan darah, pemeriksaan urin, dan tes mantoux. Untunglah saat itu kami sudah pakai BPJS. Kalau enggak, berapa duit ituuuh?

Lalu, gimana hasil dari screening infeksi tersembunyi?

Hehehe, sabar ya. Akan saya lanjutkan dalam judul  yang berbeda.

Oh iya, ada satu hal yang membuat saya sedih selama proses konsul kasus Maryam ini. Bukan, bukan soal BB Maryam yang sulit naik, saya sudah menyiapkan diri untuk itu. Tapi, soal omongan orang sekitar.

Saya adalah seorang bidan, saya tahu dasar-dasar teori pertumbuhan anak. Tapi, begitu orang sekitar saya mengetahui bahwa saya membawa anak saya ke dokter spesialis anak ‘hanya’ karena BB seret, mereka mencibir.

Awalnya sih sedih, ya. Tapi saya ingat bahwa bukan mereka yang akan dimintai pertanggungjawaban soal anak saya kelak di hadapan Allah. Melainkan saya dan suami. Maka tak peduli apa yang mereka katakan, kami akan mengusahakan yang terbaik untuk anak kami.

Ibu-ibu yang juga mengalami hal yang sama dengan saya, semangat juga, ya! 

To be continue…


Kamis, 30 April 2020

Sebuah Pelepasan: Rasakanlah!


            Bahagia, senang, cinta, adalah beberapa contoh perasaan positif. Sedangkan sedih, kecewa, marah adalah beberapa contoh perasaan negatif. Saat ini, di era yang setiap orang bebas berpendapat, semua telunjuk menuding ke arah orang yang merasakan perasaan negatif bahwa apa yang dirasakannya adalah suatu kesalahan.
            Ketika seseorang menangis, sedih karena karena hal buruk terjadi dalam hidupnya, seseorang akan berkata;
        “Nggak usah sedih. Masih banyak orang yang merasakan hal yang lebih buruk daripada kamu.”
            Lalu ketika seseorang kecewa akan harapannya yang tak terwujud, seseorang akan berucap;
        “Nggak usah kecewa, orang lain banyak yang harapannya tidak terkabul sepertimu. Kamu masih mending, blab bla bla”
            Semua orang seolah sepakat bahwa ‘perasaan negatif’ itu tidak boleh dirasakan. Harus diusir sejauh-jauhnya. Kalau sampai kamu merasakannya, kamu berarti orang yang lemah dan tidak bersyukur.
            Saya jadi teringat film animasi Disney yang cukup populer pada masanya, judulnya Inside Out. Film ini menceritakan tentang bagaimana emosi dan pikiran seorang gadis bernama Railey yang sedang beranjak remaja bekerja. Railey tergolong anak yang ceria, kedua orang tuanya sangat menyayanginya sehingga memori-memori yang disimpan sebagian besar adalah memori kebahagiaan.
Sadness, adalah satu-satunya emosi yang sama sekali tidak diperkenankan mengambil alih kontrol atas Railey. Joy yang melarangnya. Ia beranggapan bahwa kesedihan hanya akan membawa kenangan dan memori buruk. Hingga suatu hari, entah kenapa Sadness sangat labil. Ia begitu menggebu ingin mengambil alih kontrol. Membuat hari-hari yang dialami Railey jadi berantakan. Menangis di dalam kelas, marah pada orang tuanya, kabur dari rumah, dan masih banyak hal.
Kejadian yang menjadi titik balik dari film ini adalah ketika Sadness terbuang ke gudang memori bersama Joy. Di sana mereka belajar dan menyadari bahwa semua emosi dan sikap seseorang penting dan pantas dirasakan. Bahkan sedih dan menangis sekalipun. Film ini menunjukkan bagaimana kebahagiaan bahkan bisa terwujud selepas kesedihan menghantam. Kenangan indah bahkan bisa tercipta dengan diawali deraian air mata.
Begitu pula seharusnya kita. Sedih, kecewa, marah adalah perasaan yang pantas dirasakan dan diakui sebagaimana bahagia dan gembira. Akui dulu, jangan ditolak. Kita pantas sedih atas hal buruk yang terjadi. Kita boleh kecewa jika harapan kita tak terwujud. Bahkan jika ingin menangis, menangislah! Toh ini air mata kita, kita nggak nyuri punya tetangga. Kita tidak akan terlihat lemah hanya karena menangis, kita bahkan nggak dosa hanya karena menangis.
Akuilah segala perasaan. Karena kita manusia, bukan robot.
Tapi, jangan berlarut-larut.


            Bersambung…

Sabtu, 10 Agustus 2019

Tentang MPASI (1)

Sekitar sebulan lalu saya tu masuk ke grup MPASI yg linknya tersebar di forum The Asianparent. Iseng bgt masuk pdhl anak msh blm MPASI. Nah, asumsi saya, emak2 yg masuk grup ini adl emak2 milenial. Karna sdh jd suatu kebiasaan, emak2 milenial nih bikin komunitas macam ini dan mencari info kesehatan scra instan di internet. Ini penilaian saya. Monggo yg punya penilaian berbeda..
Karna grupnya MPASI, maka yg dibahas yaa gak jauh2 dr itu. Sesekali saya nimbrung utk memberi info yg benar sesuai keilmuan saya di tengah maraknya info gak bener 🥺

Setelah bbrp lama gabung, saya agak terusik jg krna banyaaaaaaak sekali info2 gak bener yg beredar.
Info plng umum, "Nggak apa2 bb anak gak naik yg pntng anaknya aktif"

Dulu, saya mempercayai statement ini. Tp stlh belajar dan belajar lagi, akhirnya saya sadar bahwa statement ini jelas2 salah.
Pertama, anak aktif dan pertambahan BB itu 2 hal yg berbeda. Yg satu soal perkembangan, yg satu soal pertumbuhan.
Kedua, anak tu dlm masa pertumbuhan. Maka standar pertumbuhan yg baik harus terpenuhi kalo emng pengen pnya anak yg bertumbuh dg baik. Tolak ukur yg plng efektif, efisien, dan gampang yaitu BB dan TB. Bahkan di KMS itu terpampang nyata kalimat 'rujuk ke petugas kesehatan bila tdk naik 2x berturut2 atau BGM'

Ini saya fotoin tulisan di KMS. Siapa tau gak kebaca di buku KMS masing2 😅


Biasanya BB seret itu baru dialami pas masa MPASI. Yg artinya ada yg gak bener nih soal MPASI anaknya.

Baca punya baca, ternyata banyaaaaaaak yg mengaplikasikan MPASI menu tunggal, anak makan diemut dibiarin, anak makan sambil main ato sambil hp-an dibiarin, takut alergi kalo ngasi protein hewani ke anak, mending anak makan sayur n buah drpd makan daging, tekstur MPASI yg stagnan, dll dll.
Dan itu di-aamiin-kan bahkan oleh tenaga kesehatan.

Dulu saya sempat percaya sama MPASI menu tunggal (krna tmen bidan ada yg pake). Jd anak cuma dikasi makan puree sayur & buah selama 14 hri, kdng malah ditambah chia seed 🧐

Laluuuuu, lagi2 saya bljr. Baca2 rekomendasi MPASI terpercaya dan saya gak menemukan soal MPASI menu tunggal ini. Logikanya, anak tu kan sdng masa pertumbuhan, kebutuhan nutrisinya tinggi, kalo udh disarankan MPASI brrti kan ASI saja udh gak cukup. Nah, kira2 kebutuhan gizinya terpenuhi kah hanya dr puree buah & sayur itu?

Saya yakin, ENGGAK.


Ini saya SS dr guideline WHO soal MPASI..
Gmn? Ada disuruh pake menu tunggal puree sayur & buah aja?

Enggak ya...
Prohe malah dianjurkan tiap hari. Asam amino esensial tu paling banyak ada di makanan2 sumber prohe. Dan dia ni gak bisa diproduksi oleh tubuh kita jd sgt bergantung dg asupan makanan. Pdhl fungsi asam amino esensial sgt krusial dlm pertumbuhan anak.
Kata penelitian, anak yg stunting memiliki level asam amino esensial yg lbh rendah drpd anak yg tdk stunting.

Nah loh 😥

Minggu, 24 Februari 2019

NHW #4 Mendidik Dengan Kekuatan Fitrah





a.   Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?
Setelah merenung cukup lama dan menelaah kembali NHW #1 yang sudah saya kerjakan akhirnya saya menyadari bahwa ilmu syukur itu terlalu umum dan bisa berkaitan dengan segala aspek kehidupan. Karena setiap inchi kehidupan kita sangat memerlukan sikap syukur. Maka, saya simpulkan saya ingin mempelajari satu ilmu secara jangka panjang yaitu ilmu parenting nabawiyah. Ya, gak sekedar parenting. Saya ingin meniru bagaimana metode pendidikan anak yang diajarkan dalam Al-Quran, dicontohkan oleh para Nabi dan Rosul serta orang-orang shalih terdahulu.
Sebenarnya ilmu ini menjadi salah satu yang ingin saya pelajari dan jabarkan di NHW #1. Tapi ketika pilihan jatuh pada ilmu syukur karena menurut saya lebih syumul. Dan benar saja, karena terlalu umum jadi sedikit membingungkan.hehe

b.   Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.
Checklist ini belum betul-betul 100% saya kerjakan. Tapi Alhamdulillah, pak suami mendukung penuh checklist yang saya buat dan seringkali menjadi pengingat. Membuat saya buru-buru menata kembali niat untuk selalu memantaskan diri. Setelah dibaca ulang saat ini, ada beberapa hal yang perlu direvisi dari checklist indikator profesionalisme perempuan yang sudah saya buat.

c.   Baca dan renungkan kembali Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.
Pengalaman hidup yang cukup pahit pernah membuat saya berada di titik terendah. Merasa ‘buat apa lagi aku hidup? Toh, mati pun takkan ada yang menangisi jenazahku.’
Serius! Saya pernah berpikir untuk mengakhiri hidup. Ini bodohnya saya. Ketika itu sama sekali tak terpikir bahwa tentu Allah memiliki maksud kenapa saya masih hidup hingga hari ini. Kalau Allah mau, tentu saya berbalut tanah hari ini. Tapi Allah masih beri saya hidup, maka pasti ada maksud atas diciptakannya diri ini.
Saya senang berbagi. Terutama berbagi ilmu dan berbagi pundak bagi sesiapa yang diliputi masalah. Ketika ada orang lain yang memilih saya untuk menjadi teman curhatnya, saya senang. Bukan karena saya senang di atas penderitaan orang lain. Tapi karena dengan begitu saya bisa menebar kebermanfaatan. Apa yang saya ketahui, pengalaman-pengalaman saya mungkin bisa jadi solusi untuk orang lain. Selain itu, ketika ada orang lain yang terketuk hatinya untuk berbuat baik, atau berubah perilakunya, atau sedikitnya menambah pengetahuan orang lain dari tulisan saya, rasanya senang sekali. Tapi saya sadar, bahwa menebar benih kebermanfaatan di luar haruslah dimulai dari dalam rumah terlebih dahulu. Bagaimana bisa menebar kebermanfaatan jika pondasi di dalam rumah masih goyah? Maka pondasi rumah tangga haruslah kokoh terlebih dahulu.
Misi hidup: menjadi partner suami membentuk peradaban dari dalam rumah untuk menebar kebermanfaatan di luar rumah
Bidang: pernikahan dan parenting nabawiyah
Peran: edukator dan influencer

d.   Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.
Setelah menentukan 3 hal di atas, berikut ilmu-ilmu yang menurut saya sangat diperlukan untuk menjalankan misi.
1)      Ilmu parenting: termasuk di dalamnya mempelajari sirah nabawiyah dan sirah sahabat sebagai landasan pendidikan anak.
2)      Ilmu manajemen diri dan keluarga
3)      Ilmu kebidanan: Latar bidang pendidikan saya yang seorang bidan erat sekali kaitannya dengan ilmu parenting. Betapa pendidikan anak itu seharusnya dimulai sejak sebelum si anak lahir. Maka, saya juga ingin mendalami lebih dalam lagi bidang keilmuan saya ini terutama seputar tumbuh kembang anak.
4)      Ilmu kepenulisan: saya ingin menjadi penulis profesional sehingga kebermanfaatan tidak hanya dapat ditebar di sekitar saya, tapi jauh hingga menjangkau berbagai pelosok. Selain itu, dengan menulis mampu menjadi amal jariyah kelak ketika tubuh ini sudah dikandung tanah.
5)      Ilmu komunikasi: menurut saya ini penting sekali sebagai bekal menjadi seorang edukator dan influencer

e.   Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan.
Saya menetapkan KM 0 saya pada saat ini, saat saya berusia 26 tahun. Kemudian berikut milestone yang saya tetapkan:
1)      KM 0 – KM 1 (tahun 1) : menguasai ilmu parenting
2)      KM 1 – KM 2 (tahun 2) : menguasai ilmu manajemen diri dan keluarga
3)      KM 2 – KM 3 (tahun 3) : menguasai ilmu kebidanan khusus tumbuh kembang anak (sedang atau telah menyelesaikan studi S2 Kebidanan)
4)      KM 3 – KM 4 (tahun 4) : menguasai ilmu kepenulisan
5)      KM 4 – KM 5 (tahun 5) : menguasai ilmu komunikasi

Minggu, 03 Februari 2019

NHW #1 Matrikulasi IIP #7

Akhirnya, setelah melewati tujuh purnama sempat juga nyelesaikan NHW ini. Hehehe, lebay. Jadi, merenungi pertanyaannya sebenarnya udah lama. Udah lama juga dapat jawaban, meski jawabannya gonta ganti sampe dapat yang ini, hehehe. Tapi eh tapi nulisnya ini yang baru sempat detik-detik menjelang tenggat waktu pengumpulan NHW. Huhuhu... Semoga ke depannya bisa lebih baik. Aamiin…

Ini dia NHW-nya

Owkey, bismillah... Ini jawaban saya dari nice homework a.k.a NHW pekan pertama di matrikulasi IIP batch 7.



1.    Jurusan ilmu yang ingin ditekuni
Ada banyaaaak sekali ilmu yang ingin saya tekuni di universitas kehidupan ini. Karna memang sejatinya hidup adalah never ending learning. Eh bener ndak ya istilahnya? Hehehe, ya intinya begitulah. Tapi ada satu ilmu yang ingin saya tekuni, yang menurut saya sangat berkaitan dengan perilaku positif lainnya, yaitu ilmu syukur.

2.    Alasan terkuat
Tentang rasa syukur, ayat Al-Qur’an dan hadits sudah banyak sekali menyebut-nyebutnya. Salah satu ayat yang sangat populer adalah…
Dan (ingatlah) ketika Rabbmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat. [Q.S Ibrahim: 7]
Rasa syukur menjadi jawaban, penenang, penyejuk hati di kala kecewa dan terluka. Betapa dengan rasa syukur segala hal yang terjadi dalam hidup, seberat apapun, sepahit apapun akan terasa ringan. Akan terasa nikmat. Akan tampak segala hikmah di balik suatu kejadian. Karena hati meyakini bahwa apa-apa yang menimpa diri tak lain karena kehendak-Nya. Maka ketenangan yang menyelinap dalam hati adalah sebentuk nikmat yang Allah janjikan bagi hamba yang bersyukur. Tak ada lagi iri melihat hidup orang lain yang lebih kaya, lebih sukses, lebih beruntung, dan lebih-lebih lainnya.

3.    Strategi menuntut ilmu
Tentang ilmu syukur, rasanya tak ada cara terbaik dalam mempelajarinya selain learning by doing. Menerapkan rasa syukur dalam bentuk sekecil apapun. Misal, senantiasa mengucapkan ‘alhamdulillah’ untuk setiap keadaan baik atau buruk sekalipun.
Menimba ilmu syukur dari siapa saja. Terkadang contoh rasa syukur ini datang dari siapa saja, bahkan dari seorang anak kecil sekalipun. Maka, senantiasa mengosongkan gelas agar ilmu baru dapat masuk ke dalam gelas tersebut menjadi strategi yang menurut saya perlu diterapkan.

4.    Perubahan sikap
-        Perbaiki niat
Dalam menuntut ilmu apapun, maka niat untuk meraih ridho Allah haruslah senantiasa ditanamkan dalam hati. Selain itu, setiap ilmu yang dipelajari hendaknya diniatkan untuk diamalkan, bukan semata supaya tahu saja. Begitu juga tentang ilmu syukur ini.
-        Fokus pada kelebihan diri.
Seringkali yang membuat saya lupa bersyukur adalah karena saya selalu merasa kurang. Saya selalu melihat pada kelebihan orang lain hingga sibuk merutuki kekurangan dalam diri. Maka fokus pada kelebihan dan segala apa yang sudah Allah beri menjadi salah satu perubahan sikap yang sangat diperlukan.
-        Menghilangkan sikap merasa sudah tahu.
Ah, ini juga diperbaiki. Tanpa sadar, sikap merasa sudah tahu kadang muncul saat mendengar suatu ilmu disampaikan. Terlebih ilmu syukur yang teorinya banyak sekali orang tahu tapi realisasinya sangat sedikit yang mampu.
-        Tidak merasa lebih baik dari orang lain
Ketika diri mendapat ilmu baru, semisal dalam hal ini hati menjadi semakin mudah bersyukur, penyakit lain yang bisa saja muncul adalah merasa lebih baik dari orang lain. Maka sejak awal penyakit ini harus senantiasa diperangi.


5.  Indikator sukses
Indikator sukses terpenting dalam ilmu syukur adalah penerapannya. Realisasinya dalam tingkah dan laku sehari-hari. Maka indikator pertama dan paling utama dalam menuntut ilmu syukur ini adalah mampu menerapkannya dalam berbagai keadaan. Seburuk apapun keadaan yang tengah menimpa. Indikator lainnya adalah…
-       Senantiasa berterima kasih pada orang lain. Sekecil apapun bantuan, pemberian, atau kebaikan apapun yang orang lain lakukan.
-        Mampu memahami tanda-tanda kekuasaan Allah
Nah, salah satu ‘imbalan’ bagi hamba yang bersyukur adalah ditambahnya nikmat. Menurut saya, nikmat yang luar biasa dari Allah ini tidak akan tampak jika kita tidak mampu memahami tanda-tanda kekuasaan Allah di muka bumi.
-        Selalu merasa cukup dengan pemberian Allah
Perasaan cukup ini akan menimbulkan ketenangan dalam hati hingga tidak hirau dengan perkara duniawi.
-        Meningkatkan ibadah atau amalan yaumiyah sebagai bentuk syukur kepada Allah.

Minggu, 27 Januari 2019

It's Time to Change



Jaman sekarang, jaman media sosial meraja lela, segala bentuk pengaruh positif dan negatif gampang banget masuk. Kita mesti punya benteng yang kuat untuk meminimalkan masuknya pengaruh negatif. Benteng ini sejatinya haruslah dibangun dari keluarga. Keluarga yang kuat nilai-nilai positifnya akan lebih sulit dipengaruhi nilai-nilai negatif. Karenanya sebagai madrasah pertama dan pendamping nahkoda kapal rumah tangga, kita nih, para emak mestinya mampu membawa atmosfer positif dalam rumah tangga. Tentu nggak instan, nggak gampang. Kita dulu yang mesti belajar, berbenah, hingga menjadi bermanfaat.

Nah, ada yang nggak tahu Institut Ibu Profesional gak?

Kayaknya emak-emak milenial dah pada tahu ya komunitas kece satu ini. Kayaknya saya yang telat, karena saya baru tahu IIP ini sekitar tahun 2017. Di mana di tahun 2017 itu saya justru lagi sibuk menjalani program profesi bidan. Pengen banget ikut. Tapi, apa daya. Kesibukan profesi yang bejibun bikin saya nggak berani ambil kelas online macam IIP. Tahun 2018, tahun saya menikah, pengennya ikutan. Eh taunya sudah ketinggalan T.T Akhirnya saya follow media sosial IIP supaya nggak ketinggalan berita. Eng ing eng, bulan Desember lalu dibuka kelas Foundation IIP. Pra Matrikulasi gitu. Begitu tahu, jempol saya langsung gercep daftar dong. Nggak mau ketinggalan lagi. Tentu sebelumnya udah izin pak suami, ya…

Maa syaa Allah, rasanya luar biasa ketemu emak dan calon emak dari berbagai daerah yang tergabung dalam regional Jember Raya. Kayak ngobrol di whatsapp group aja bikin ketularan semangatnya. Nggak ada sebulan, kelas Matrikulasi dibuka. Hari pertama dibuka saya langsung daftar dong. Tapi eh tapi, rupanya buanyak yang lebih gercep. Bener-bener ya semangatnya. Luar biasa! (Kasi tepuk tangan…)

Sampai hari ini, kelas Matrikulasi belum resmi dibuka. Tapi rasanya saya sudah merasa menemukan tempat yang tepat untuk berbenah, memperbaiki diri, menemukan potensi. Iya deh, beneran! Gimana enggak? Dari Stadium Generale kemarin, saya menyadari bahwa IIP ini dihuni, dikelola, dan dihidupkan oleh emak-emak luar biasa. Emak-emak yang nggak cuma ingin kebaikan buat dirinya, tapi juga buat keluarga dan lebih-lebih buat lingkungan di sekitarnya. Ato bahkan buat seluruh wanita di mana pun berada. Keren ‘kan?

Nah, buat berubah dan menjadi bermanfaat itu nggak cuma dengan berada di dalam lingkungan yang kondusif saja. Tapi tekad yang kuat untuk belajar dan berubah itu juga penting banget. Nah, beberapa hari kemarin saya ketinggalan betul dengan atmosfer di IIP karena suami lagi sakit. Setelah pak suami membaik, saat beliau istirahat saya sempatkan mengikuti Stadium Generale dan membaca resumenya. Maa syaa Allah, rasanya langsung tersulut nih semangat belajarnya. Keren, ya? Ikut kelas online aja bisa bikin semangat belajar dan berbenah jadi berapi-api.

Ya begitu. Lingkungan yang kondusif dan tekad yang kuat ini berkesinambungan. Nggak bisa satu aja yang ada. Supaya diri ini nggak terbawa arus perubahan aja, di jaman yang arus perubahan positif dan negatif sama kuatnya, kuatkan tekad dan temukan lingkungan yang kondusif! Menurut saya, gabung IIP ini udah langkah awal yang bener banget! Ya, nggak? Hehehe

Selamat berbenah dan berubah! Berbenahlah sekarang juga!

Btw, ini bukan marketing, ya. Sama sekali bukan. Beneran!


Senin, 12 November 2018

A Journey to S.Keb., Bd



            “Kamu nggak daftar D4, Fin?” kata seorang teman empat tahun lalu, persis ketika saya baru menyelesaikan studi D3 kebidanan. Ketika banyak dari tema-teman saya yang memilih melanjutkan studi D4 kebidanan di sebuah kampus swasta di Kediri.
            “Enggak. Mau nyoba daftar S1 di Unair.” Jawab saya.
            “Hah? Mau daftar di Unair? Kamu nggak bakal diterima.” Ucapnya seraya pergi.
            Entah apa yang membuatnya berkata begitu. Mungkin karena memang satu-satunya jenjang S1 bidan + profesi yang menerima dari D3 hanya ada di Unair. Tapi tak apa, karena tahun berikutnya saya buktikan bahwa ucapannya salah.
            Tidak berhenti sampai di situ. Seorang teman yang juga mendaftar tapi tidak lolos menyebar berita ke adik tingkat bahwa saya bisa lolos di unair karena ada ‘duit’nya. Waktu itu rasanya kesal sekali lalu lama-lama nggak peduli meski ada yang bilang begitu lagi. Karena tahun-tahun berikutnya saya buktikan bahwa bahkan saya bisa masuk 10 besar mahasiswa berprestasi jenjang sarjana hingga profesi bidan FK Unair.
            Lalu akan ada yang nyinyir, “Apa gunanya gelar? Buat sombong doang?” Of course not! Bahkan saya tidak terlalu suka menyematkan gelar di belakang nama saya. Bagi saya yang terpenting adalah ilmu dan pengalaman.
            Kalau sekedar melihat hasil akhir, rasanya menyenangkan. Tapi jika dijalani sendiri, akan tahu bagaimana perjuangannya. Terlebih saya yang sedari awal merasa kurang ‘klik’ dengan profesi ini, rasanya tertatih-tatih menyelesaikannya. Saat di jenjang akademik masih belum terasa, karena yaa kegiatannya biasa saja. Seperti kuliah biasa. Begitu masuk jenjang profesi, keteguhan tekad mulai diuji. Jam tidur berantakan, terlebih lagi makan pun sembarangan, tugas yang teruuuuusss menumpuk seolah patah satu tumbuh seribu, belum lagi ujian yang beranak-pinak. Tak jarang jenuh melanda, tapi mau gimana? Nggak bisa kabur. Nggak kayak waktu skripsi, kalau jenuh bisa ditinggal jalan-jalan, kulineran, haha-hihi sama teman. Lah kalo profesi? Boro-boro kulineran, pulang jaga udah kelaperan, jadi apa yang dilewatin udah itu aja yang dibeli buat makan, hehehe.
Menempuh pendidikan di Unair membentuk sebuah konsep pemikiran baru buat saya. Menajamkan kembali filosofi seorang bidan hingga konsep kebidanannya. Bahwa bidan berbeda dengan perawat, berbeda dengan dokter SpOG. Bahwa bidan bukan sekedar menjalankan advis dokter, bukan sekedar mencegah komplikasi dari faktor risiko, bukan sekedar menurunkan AKI dan AKB. Peran bidan lebih jauh dari itu. Kita dibutuhkan tidak hanya di lapangan pekerjaan tapi juga dalam kehidupan sosial. Soal ini, sepertinya sudah pernah saya bahas di sini.
Ah iya, buat yang lagi menjalani profesi, semangat yaaaaaa :D
Segala perjuangan akan terbayar akhirnya J
Now, I’m starting a new journey…