Awal
tahun 2019, pertama kali saya mengenal secara resmi Ibu Profesional dengan
bergabung di kelas matrikulasi batch 7. Beberapa minggu berlalu, saya mulai
beradaptasi dengan kawan-kawan baru yang luar biasa. Mengunyah materi yang
diberikan dengan semangat, mengerjakan tugas yang juga saya unggah ke blog ini.
Namun, saat kelas belum selesai, akhirnya tanda cinta dari bayi yang saya kandung saat
itu muncul. Alhamdulillah, Isa lahir di tengah-tengah ibunya sedang belajar.
Drama
masa nifas dan menyusui ternyata sangat menguras energi untuk ibu baru macam saya
saat itu. Akhirnya sisa kelas matrikulasi IP saya jalani dengan setengah hati
dan semangat yang juga setengah-setengah. Alhamdulillah saya tetap berhasil lulus.
Tak lama setelahnya, wacana Ibu Profesional New Chapter mulai terdengar. Member
lama diminta herregistrasi. Dan tentu saja, saya yang masih beradaptasi dengan
peran baru sebagai ibu akhirnya memilih utk menunda herregistrasi.
Tepat
3 tahun setelahnya, saat saya sudah jadi ibu dari 2 anak, barulah saya
membulatkan tekad utk ‘melanjutkan’ perjalanan menyemai bahagia di Ibu
Profesional. Bergabung dengan Foundation 12.
Maa
syaa Allah, Alhamdulillah. Bertemu teman-teman satu penginapan yang super baik,
penuh semangat, menyebar positive vibes yang sampai juga ke dalam diri saya,
rasanya bahagia sekali. Belum lagi materi-materi padat nutrisi yang menjadi
menu makan utama dan kudapan selama kelas berlangsung. Saya jadi kembali
menemukan alasan untuk tetap semangat dan bersungguh-sungguh menjalankan peran sebagai
ibu. Rasa lelah yang sering melanda usai menjalani kegiatan sehari-hari yang
begitu-begitu saja berubah menjadi rasa syukur karena telah diberi kesempatan
untuk menjadi madrasah pertama dan utama untuk anak-anak yang Allah titipkan
pada saya. Perasaan yang membuncah, yang sulit dideskripsikan dengan kata-kata.
Ah,
ibu. Wanita yang seharusnya dimuliakan ini belakangan justru sering menjadi
sasaran hate comment atau hate speech. Direndahkan karna tak
berpenghasilan, dianggap tak sempurna hanya karna melahirkan secara SC, hanya
karna anak-anak mereka terlihat tak sehebat anak-anak lain, hanya karna tidak
pandai memasak, hanya karena tidak pandai beberes rumah, seorang ibu pun kerap kali
dianggap tak becus karena meninggalkan anak-anak mereka untuk pergi bekerja, pun
tak jarang dihina fisiknya karena tak lagi langsing dan mulus seperti gadis, dan
lain-lain.
Maka,
Bu… Berbahagialah!
Tidak
sulit, kok, menemukan bahagia itu. Apa saja yang membuat kita bahagia, lakukanlah.
Kalau saat bangun pagi kita bahagia melihat rumah yang rapi, maka rapikan sebelum
tidur. Kalau kita bahagia saat membaca buku, maka lakukanlah saat anak-anak
tidur siang. Kalau kita senang belajar, maka ikutlah kelas-kelas dan komunitas
semacam IP ini.
Ingatlah,
bahwa kebahagiaan itu bergantung pada diri kita sendiri. Bukan orang lain. Bahkan
bukan dari pasangan kita sendiri.
Aduh,
saya jadi nggak sabar menunggu jenjang selanjutnya dalam IP New Chapter ini. Oh
iya, karena saat penjurusan saya memilih institut, saya pun tak sabar untuk
segera belajar bersama ibu-ibu lain. Mengarungi Samudra Matrikulasi, Pulau
Bunda Sayang, Hutan Kupu-kupu Cekatan, dan seterusnya.
Saya berharap, dengan seiring berjalannya waktu, seiring bertambahnya jam terbang dalam belajar dan bermain di Institut Ibu Profesional, maka bertambah pula kecintaan saya pada peran saya sebagai ibu ini. Pun bertambah pula kemuliaan diri ini dengan perbaikan akhlak dan pola pikir yang terus bertumbuh. Dan juga, dengan semakin bertambahnya sirkel pertemanan positif dalam lingkup regional Ibu Profesional, semoga menjadi wadah pengingat bagi saya agar terus semangat untuk berkembang, berkarya, berbagi, dan berdampak.
Semai Harapan Ibu Profesional Foundation 12